Benarkah
Hanya UN yang Dapat Dijadikan
Patokan
Keberhasilan Siswa??
Pendidikan merupakan salah satu
sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan potensi anak agar memiliki
kecerdasan, akhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan
sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian evaluasi pendidikan merupakan salah
satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Ujian nasional (UN) merupakan salah satu alat
evaluasi yang dikeluarkan Pemerintah yang menurut pendapat saya, merupakan hal
yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan seorang siswa berhasil atau
tidak dalam melewati jenjang pendidikan sesuai tingkatannya.Tetapi benarkah
hanya dengan melaksanakan Ujian Nasional
saja dapat mengetahui keberhasilan seorang siswa? Sementara pelajaran yang
biasa di UN-kan hanya beberapa saja,seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi,
Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Apakah hanya pelajaran itu yang penting
bagi kehidupan kita sebagai anggota masyarakat? Lalu bagaimana dengan pelajaran
budi pekerti, yang kita sebagai masyarakat di tuntut untuk memiliki budi
pekerti luhur dan ahklak mulia?
Menurut
saya hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak siswa gagal
dalam menempuh Ujian Nasional. Mungkin saja mereka tidak menggemari salah satu
atau beberapa pelajaran yang di UN-kan tersebut. Sehingga nilai mereka jatuh
pada mata pelajaran itu yang berakibat sangat fatal. Sementara di sisi lain
mereka memiliki kemampuan lebih di lain bidang, seperti menulis novel,
menggambar atau melukis dan lain sebagainya yang mungkin bisa mengukir banyak
prestasi yang gemilang dan mendukung cita- cita mereka kedepan.
Siswa
yang dapat lulus dalam Ujian Nasional belum tentu merupakan siswa yang cerdas.
Bisa karena kebetulan mereka sempat membaca soal tersebut dan akhirnya bisa
menjawab soal- soal UN. Dengan kata lain, UN menentukan standar mutu pendidikan
tanpa melihat latar belakang, kemampuan, kondisi, serta proses belajar yang
terjadi pada siswa. Untuk menghadapi UN memang tidak
boleh main – main. Di sini orangtua atau guru harus bisa mengkondisikan mental
anak dengan baik., dengan jalan mendampingi mereka. Karena mempersiapkan mental
yang baik dalam menghadapi ujian itu penting. Orang tua tidak seharusnya menuntut anak secara berlebihan dengan tujuan
agar mereka menjadi juara. Harus mendapat NEM atau ranking tinggi bahkan harus menjadi yang
terbaik. Untuk mendapat materi tambahan saja siswa sudah merasa lelah lahir
batin, apalagi ditambah dengan tuntutan-tuntutan orang tua yang terlalu over.
Seolah-olah NEM tinggi adalah segala-galanya. Belum lagi siswa dipaksa untuk
mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, les private dan lain – lain. Cukup
sudah orang tua memaksa anaknya untuk bertindak lebih. Jika anak stress orang tua juga
akan dirugikan. Malah akan berdampak lebih buruk. jangankan untuk lulus,
mungkin untuk mengikuti UN saja tidak bisa karena mental yang jatuh.
Lalu
apakah UN akan tetap dipertahankan oleh pemerintah? Entahlah. Kita sebagai
siswa hanya bisa mengikuti peraturan yang ada. Dengan harapan UN tidak menjadi
penentu kelulusan 100%. Implementasinya dapat dilakukan melalui pembobotan.
Dengan pelulusan ditentukan oleh nilai UN dan nilai raport sekolah. (Novi,Smapan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar